Dari tujuh gol yang dihasilkan Argentina di fase grup, belum ada satu pun yang datang dari pemuda 22 tahun ini. Toh demikian, Messi punya kontribusi besar. Ia banyak berlari untuk menusuk pertahanan lawan, memberikan operan hingga melepaskan tembakan dari lini kedua.
Dalam laga teranyar melawan Yunani, satu sepakan Messi berujung pada terciptanya gol kedua Argentina. Bola sepakannya yang ditepis kiper Alexandros Tzorvas langsung dicecar Martin Palermo. Dan Palermo pun memperbesar keunggulan pasukan Diego Maradona menjadi 2-0.
Messi sendiri tak gusar. Ia tak peduli jika dirinya tak mencetak gol, asalkan Argentina bisa memenangi pertandingan.
"Saya selalu mencoba melihat yang terbaik dari rekan-rekan saya. Saya tak peduli jika saya tak mencetak gol, yang terpenting tim kami tetap menang," ujarnya seperti dilansir Yahoosports.
Pemain yang akan berusia 23 tahun pada 24 Juni ini juga senang kala dirinya ditunjuk menjadi kapten--menggantikan Javier Mascherano--oleh Maradona. Baginya, memimpin tim adalah pengalaman berharga.
"Ketika saya tahu bahwa saya akan menjadi kapten, saya merasa bahagia. Ini adalah pengalaman spesial. Saya mendapatkan dukungan dari rekan-rekan saya, ini adalah pengalaman yang berharga," tukasnya.
Kala kini dirinya sudah pernah mengapteni Argetina, terbersitkah di benaknya untuk menjadi kapten Barcelona juga?
"Masih banyak pemain yang sudah bermain bersama saya yang lebih layak mendapatkannya," tandasnya.
(dtc/roz)
Kaka dikartu merah setelah mendapatkan kartu kuning kedua, yang mana lahir akibat dirinya menyikut Kader Keita. Namun, kubu Brasil dan Kaka mengklaim bahwa tak ada sikutan, melainkan hanya tabrakan biasa--seperti halnya bisa dilihat dalam siaran ulang.
Nasi sudah menjadi bubur, kartu merah sudah keluar dan playmaker Real Madrid itu sudah pasti absen di laga terakhir melawan Portugal. Toh demikian, tetap saja ada rasa kesal, terutama dari nenek Kaka, Vera.
"Saya tak bisa mengulang apa yang dia katakan di sini. Dia senang melihat permainan saya, tetapi sedih ketika melihat saya dikeluarkan. Dengan segala respek untuknya, dia mengeluarkan sedikit sumpah serapah kepada wasit," ungkap Kaka seperti dilansir Yahoosports.
Pemain yang terkenal relijius itu sendiri mengaku salah. Kaka menyebut, dirinya terpancing emosi dan berjanji tak akan mengulanginya di lain kesempatan.
"Itu bukan situasi yang menyenangkan. Mulai sekarang, saya akan menjaga diri di lapangan karena seperti yang kita lihat, wasit sangat tegas di lapangan."
"Dalam momen penting seperti Piala Dunia, Anda harus menjauhi situasi seperti itu," tukasnya.
(dtc/roz)
Pelatih Argentina, Diego Maradona tidak tahan dengan pembicaran handball Luis Fabiano. Striker Brasil itu mencetak gol kedua ke gawang Pantai Gading saat Brasil menang 3-1, Minggu kemarin, dengan bantuan tangannya. Apa kata Maradona? "Itu bukan gol tangan Tuhan," tegasnya.
Sejumlah orang memang menyamakan gol Fabiano dengan 'Gol Tangan Tuhan' yang dibuat Maradona ke gawang Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Tapi, Maradona rupanya tak mau disamakan.
Maradona memang lekat dengan sebutan 'Hand of God' atau 'la mano de Dios' alis Gol tangan Tuhan. Di Estadio Azteca, Mexico City -- tepat hari ini 22 Juni 1986 -- Maradona membungkam pendukung Inggris lewat golnya di menit ke-51. Coba bayangin, dengan tingginya cuma 165 cm, Mardona bisa melompat lebih tinggi mengalahkan kiper Inggris Peter Shilton -- yang punya tinggi 185 cm dan boleh menggunakan tangan -- untuk mencetak gol."Tidak, gol yang satu ini (Luis Fabiano) dibantu dengan lengannya, ia mengendalikan bola dengan lengannya, itu sangat jelas, saya pikir itu double handball."
Kecurangan Maradona itu tertutupi empat menit kemudian, ketika ia mencetak gol kedua yang luar biasa indah sampai-sampai dijuluki 'Goal of the Century' berdasarkan poling FIFA tahun 2002. Setelah menerima bola dari tengah lapangan ia menggiring bola dengan 11 sentuhan melewati lima pemain Inggrus -- Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher dan Terry Fenwick -- sebelum menaklukkan Shilton untk kedua kalinya.
Lalu apa beda gol Fabiano dengan Maradona?
"Ironisnya, wasit tersenyum setelah mengesahkan gol itu. Ketika saya mencetak gol melawan Inggris, saya tak melihat wasit tertawa. Ia terlihat sangat ragu, ia memandang hakim garis, saat itu belum ada wasit keempat, ia melihat penonton untuk melihat mungkin mereka bisa membantu."Tapi sama-sama pakai tangan kan, bos?
Hasil itu mengantar Portugal naik ke peringkat dua Grup G dengan empat poin, tertinggal dua angka dari Brasil yang memastikan satu tempat di 16 besar.
Sementara Korut gagal melangkah ke babak berikutnya karena belum bisa meraih satu pun angka sejauh ini.
Korut kini hanya tinggal melakoni laga melawan Pantai Gading, sementara Portugal akan menghadapi Brasil untuk penentuan juara Grup G.
Jalannya Pertandingan
Di menit-menit awal, Portugal sudah mendapat sejumlah, di antaranya lewat tendangan Cristiano Ronaldo dan Ricardo Carvalho. Namun tidak ada yang membuahkan hasil.
Korut membalas beberapa menit kemudian. Tendangan Cha Jong-Hyok hanya di menit 11 hanya tipis melebar dari gawang. Demikian juga sepakan yang dilepas Hong Yong-jo yang berhasil ditepis Eduardo, sementara bola rebound gagal dimaksimalkan Pak Nam-chol dengan sundulannya.
An Yong-hak mencoba peruntungannya dengan melepas tendangan jarak jauh, yang masih gagal tepat di sasaran.
Di menit 29, Portugal berhasil mencuri keunggulan. Umpan terobosan Tiago berhasil dimaksimalkan Raul Meireles dengan tendangannya. Meireles nyaris menggandakan koleksi golnya di menit 44 jika saja tendangannya lebih terarah.
Di babak kedua, upaya Tiago dan Ronaldo belum membuahkan hasil. Namun kesempatan yang dimiliki Simao di menit 52, memaksimalkan umpan terobosan Meireles, bersarang ke gawang Korut. 2-0 untuk Portugal.
Skor tersebut tidak bertahan lama. Hugo Almeida memperbesar keunggulan Portugal di menit 55 setelah bola hasil sundulannya bersarang ke gawang Ri Myong-Guk.
Tak lama kemudian, tepatnya menit ke-59, giliran Tiago yang menjebol gawang Korut. Umpan Ronaldo dituntaskannya dengan baik lewat tendangan kaki kanannya.
Meireles nyaris memperbesar keunggulan Portugal tiga menit kemudian. Namun bola yang disodorkan Ronaldo gagal diarahkan dengan baik ke gawang Korut.
Di beberapa kesempatan berikutnya, pemain Portugal belum lagi bisa memperbesar keunggulan timnya. Tendangan Ronaldo di menit 71 mengenai mistar. Demikian juga sepakannya sesaat kemudian yang mengarah tepat ke penjaga gawang Korut.
Di menit 80, Liedson yang menggantikan Hugo Almeida memperbesar keunggulan Portugal lewat tendangan kerasnya. Dan di menit 87, Ronaldo akhirnya bisa mengakhiri paceklik dua tahun tak mencetak gol dengan aksi menawan sebelum kemudian Tiago menyundul bola ke arah gawang untuk mengubah skor akhir menjadi 7-0.
Susunan Pemain:
Portugal: Eduardo, Coentrao, Bruno Alves, Carvalho, Miguel, Mendes, Raul Meireles (Veloso 70), Tiago, Cristiano Ronaldo, Simao (Duda 73), Almeida (Liedson 77).
Korea Utara: Ri Myong-Guk, Ri Kwan-chon, Cha Jong-hyok (Nam Song-chol 75), Pak Choi-jin, Ri Jun-il, Mun In-guk (Kim Yong-Jun 57), An Yong-hak, Pak Nam-chol (Kim Kum-il 57), Hong Yong-jo, Jong Tae-tse